Malam itu malam yang terakhir
untukku melihatnya. Dia akan datang kembali tapi entah kapan. Waktu masih
membisu membahas kehadirannya lagi, kehadirannya dalam hidup ku yang kini
berbeda. Kehidupanku yang tak lagi seperti kehidupan orang pada umumnya. Semua
berubah, semua terjadi karena dia.
10 November 2007. Kesibukanku
dimulai saat fajar masih bersembunyi dia ufuk timur dan masih enggan
menampakkan diri. “semuanya siap, aku bisa..., ini adalah debut karir ku untuk
pertama kali dan tak akan kubiarkan gagal” aku berbicara di depan cermin sesuai
dengan saran-saran orang hebat bahwa berbicara sendiri di depan cermin dapat
meningkatkan tingkat percaya diri seseoranng. Meskipun terlihat gila namun ku
lakukan saja, aku adalah orang yang memiliki kepercayaan diri yang lemah tetapi
sekarang aku harus bisa merubahnya.
Bukan sebuah hal baru, aku
terbiasa melihat rekan kerjaku melakukan hal ini “Presentasi”, namun saat ini
akulah yang akan melakukannya dalam
kondisi membawa nama besar tempatku berkerja kepada pemilik perusahaan
dagang asing. Dibandingkan seluruh rekan kerjaku, aku yang yang paling fasih
berbahasa Asing. Tidak tanggung-tanggung ku kuasai tiga bahasa Asing di usiaku yang sebentar lagi menjadi dupuluh empat tahun. Bahasa Ingris ku kuasai dari les di berbagai tempat, bahasa Jerman ku kuasai dengan otodidak karena kegilaan ku melihat
cowok-cowok Jerman dengan bola mata mereka yang berwarna dan hidung mancung
mereka yang sungguh mampu membuatku melting
dan menjadi cita-cita dalam hati ku menjadi istri salah seorang dari
mereka, dan bahasa Prancis ku pelajari karena sahabat dekatku memaksa untuk
menemaninya selama kursus bahasa Prancis karena dia melanjutkan kuliahnya di
Paris.
“teng... teng... teng...” jam
duabelas tepat, waktuku untuk memulai rapat penting ini. Sepuluh... lima belas...
duapuluh..., pintu ruangan akhirnya terbuka lebar. Suara tepuk tangan yang
dilakukan sambil berdiri oleh para pemilik perusahaan dagang masih menggelegar
keluar dari pintu rapat. “bravo..., perfecto..., exelent...” kata-kata itu
terlontar dari mulut mereka menyatakan presentaseku mengagumkan untuk mereka.
Debut pertamaku sukses besar.
Keberhasilan debutku mengakatku
pada ujung karir ku yang tersukses.” Aku wanita karir yang sukses” awalnya itu
sebuah pernyataan aku hebat namun semua ternyata hanya permulaan. Aku kaya
semua yang ingin kubeli dapat ku beli, karirku sukses, hidupku cukup. Cukup
sampai kusadar ternyata belum. Aku masih tak memiliki pasangan. Pacar atau
bahkan teman lelaki yang istimewa. Belakangan aku mencari tau mengapa tak ada
seorang cowok yang mencoba mendekat dengan ku. “Aku cantik, kaya dan aku wanita
karier apa kurangnya diriku?” semua terjawab, mereka ill fell berjalan dengan ku yang selalu merasa diatas dari mereka.
Kodrat mereka menolak secara naluria untuk mendekat denganku. Aku mulai
ketakutan dengan keadaan ini.
Dihadapan cermin sebelum aku
memulai debutku aku melihat lagi diriku yang berbeda. Diriku yang sangat
berkebalikan dari yang dulu. “Mantra mereka benar” aku mengoceh membenarkan
perkataan orang hebat itu. Sekarang aku seorang yang memiliki kepercayaan diri
tinggi hingga melupakan daratan. Aku melihat wajahku yang sudah tidak remaja
lagi. “apakah aku akan menjadi perawan tua? Tidak aku iangin memiliki keluarga
kecilku sendiri, anak dan suami yang bisa ku urus bukan karirku dengan
kesendirian” kubulatkan tekat ku untuk mulai mencari pasangan.
Hari demi hari kulalui. Aku bagai
tante-tante tak tau diri yang kehausan akan kasih sayang. Ada yang menolak saat
kuajak dinner, ada yang beralasan ini itu saat ku ajak lauch dan bahkan ada
yang lari terbirit-birit saat ku ajak untuk makan bersama. “huh ada apa dengan
mereka? Apakah aku ini aneh?” pertanyaan penuh di dalam kepalaku bagaikan TTS
yang harus diisi satu persatu. Aku jatuh pingsan.
“dimana
aku?” tersadar aku berada di tempat yang tak ku kenal.
“kamu
dirumah sakit!!” seseorang beranjak dari sofa panjang di seblah kiri tempatku
berbaring.
“anda
siapa? Dan kenapa saya di sini?” aku bertanya masih dengan kepala sedikit pusing.
“tadi
anda pingsan, wajah anda pucat makanya saya memiliki inisiatif untuk membawa
anda kemari, oh ya saya tito” dia memperkenalkan dirinya dengan senyumnya yang
lembut.
“oh
thanks... aku gak apa kok, aku sehat” aku mencoba bangkit dari tempat tidur.
“tunggu!!!
Kamu harus istirahat dokter yang bilang begitu, maaf anda kekurangan darah dan
kelelahan. Apakah anda bekerja dan mengabaikan diri anda hingga seperti ini?”
aku di hujani pertanyaan lagi
“yah
kurang lebih..” jawab ku ketus.
“pedulilah
terhadap diri anda karena tanpanya anda bukan apa-apa” dia mencoba menasehati
Kutatap raut wajahnya tak ku
temukan tanda pria-pria yang ingin melakukan kejahatan, senyumnya tulus
terpancar dari bibirnya yang merah dan matanya.
“ya ampun anda memakai soft lense?” kata-kataku mengejutkannya.
“tidak ini warna asli pupil mata saya”ia kembali tersenyum.
“tidak ini warna asli pupil mata saya”ia kembali tersenyum.
“uh
sorry aku suka pupil mata anda, em aku Mentari cukup panggil tari aja” aku
sedikit malu dan kagum melihat warna matanya, “em turunan Jerman ya?”
“emh
yah, kedua orang tua saja deustch” dia
kembali tersenyum.
“Danke
gut” simpatiku padanya
“Danke
auf” balasnya ramah, “ kamu fasih juga berbahasa Jerman?, belajar atau...?”
tanyanya sembari tersenyum.
“lernen,
outodidakt” jawabku membalas senyum, “ich liebe un deustch, sie
beeindruckend” ku jawab penuh ke kaguman.
“danke,
tari” dia tersenyum lagi dan kali ini mataku tak dapat lepas dari raut wajah
itu. Aku jatuh cinta padanya di pandangan pertama.
Seminggu setelah kejadian itu aku
sangat dekat dengan tito kami bertukar contact dan sering jalan bareng. Kembali
lagi aku pada sebuah cermin yang selalu membantuku menangani masalah-masalah
ku. “aku beruntung, aku tak perlu khawatir lagi!!, ku dapatkan cinta yang ku
mau” aku bergumam sambil terkekeh-kekeh sendiri di hadapan cermin itu. Setiap
kali melihat wajahnya ada sebuah rasa yang mengebu-gebu di dalam tubuhku ini,
berbeda dengan saat aku bersama lelaki yang lain.
Setiap hari tito menjemputku
dengan mobil Ferrari merah sport dengan plat B 71 TO yang mengantarku ke tempat
kerja dan tempat kerjanya tak jauh dari perusahaan ku bekerja. Kadang ia
menghampiriku saat lauch atau menemaniku mencari breakfast sebelum ke kantor.
Hidupku menyenangkan sejak mengenalnya, rasa humornya membuatku tak bosan saat
jalan bersaamanya, selera kami sama tapi bukan sengaja di sama-samakan seberti
si ABABIL (ABG LABIL), yang meskipun mereka gak suka demi menyenangkan pasangan
dipaksakan untuk suka ini itu.
Satu moment yang tak pernah
kulupakan saat tito mengajakku dinner yang ternyata merupakan ajakan kencan di
restoran Jerman yang selalu ku impikan masuk tapi tak pernah kesampaian. Bukan
karena aku tak mampu membayar, hanya saja di restoran itu selalu di datangi oleh
orang-orang yang nge-date bareng kekasihnya dan aku baru bisa memasukinya itupun
karena tito.
“nachricht
was?” sambutan pelayan dengan bahasa german.
“wine fϋr
frauen schone, in front of me” dia memegang tanganku dan mencium tanganku yang
berada di depannya. Hari itu kuharap waktu berhenti. “oh tuhan tolong...
berikan remote seperti pada film "Click" padaku saat ini, atau Doraemon hentikan
waktunya sekarang, siapapun tolong hentikan waktunya” gerutuku dalam hati yang
sedikit lagi akan terbang melayang-layang tak karuan bagai balon yang di tiup
dan terlepas. Wajah ku memerah dan rasanya seluruh tubuhkan tak dapat ku
gerakkan. Tak kusangka setelah
menegak wine tiba-tiba tito jatuh dari bangkunya sembari memegang dadanya, ia
terlihat kesulitan bernafas.
“obatku...
obatku...” ia melihat penuh harap padaku, seluruh orang melihat ke arah kami,
beberapa karyawan mendekat ke arah kami sembari berlari kecil.
“call ambulace,
pleasee....” teriakku.
“obatku-obatku
di kantung kanan” tito memintaku merogoh kantung kanannya. Tanpa ragu ku rogoh
kantung kanan di celananya dan kutarik keluar benda apapun yang ada di sana.
“cincin?”
Tanyaku heran. Aku hanya menemukan cincin di sana dan tak ada yang lain.
“would you be
my?” ia bangkit dan duduk menghadap kearahku dan dengan matanya yang tanpa
dosa, DIA MELAMARKU MALAM ITU.
“your insane
tito, you make me panic.. you insane, but yes i am” aku menerima dengan hati yang gak karuan,
bahagia, sedih, dan jangan lupa aku masih dalam keadaan panik. Panik
segila-gilanya panik. Malam itu tak akan pernah bisa kulupa, serentak orang
yang ada di restoran berdiri dan bertepuk tangan begitu pula karyawan dan
jangan lupa security yang masih memegang gagang telepon yang masih terhubung
kerumah sakit karena kegilaan tito. “sial satu restoran pun kau tipu... your
insane very insane, you make me cry and smile in one time... I LOVE YOU” aku
menggerutu kesal bahagia dua kata yang jarang sekali berdampingan di dalam
hidup ku.
Setelah malam
itu cincin itu terpasang di jari manisku, aku di kenalkan dengan kedua orang
tuanya yanng jelas sangat fasih berbahasa Jerman. Mereka sangat ramah. Aku
bahkan di sambut dengan sangat baik, di jamu dengan masakan khas jerman yang
hanya mengunakan merica sebagai bumbunya. Keluarga besar tito sebagian berdarah Indonesia, ada yang menikah dengan wanita indo dan ada yang telah lama menetap
di Indonesia serta ada yang terlahir sebagai warga negara Indonesia dan tumbuh
di indonesia seperti tito.
Hari ini aku
janjian untuk lauch bersama dengan tito, namun karena masih ada rapat kerja, aku
di minta untuk nge-booking tempat makan di restoran kesukaan kami yang berada
di sebuah mal yang ramai akan manusia berduit. Segera ku minta supir pribadiku
mengantar ku ke mal itu dan sampailah aku di depan resepsionis restaoran
kesayangan kami.
“silahkan,
sudah pesan tempat sebelumnya?” sambut pelayan resto sambil melemparkan
senyumnya
“belum, saya
mau pesan tempat untuk berdua” aku mejawab dengan malihat area dalam restoran.
Kepalaku celangak-celinguk sendiri berusaha mencari tempat yang pas untuk
berdua.
“Silahkan
lewat sini, saya akan menunjukkan tempatnya untuk dua orang” si pelayan yang
satu dengan ramah menghampiri.
“boleh saya
saja yang pilih, saya ingin di sebelah sana” jari ku menunjuk ke arah pojokan
ruangan yang tidak terlalu ramai pengunjung, suasananya adem dan tidak terlalu
gelap juga tidak terlalu terang. Suasananya nyaman untuk melepas lelah setelah
setengah hari bekerja. Setelah duduk di kursi pilihan ku kuliat area sekitar,
tito belum muncul.
“silahkan, mau
pesan apa?” suara pelayan menglihkan perhatianku
“saya menunggu
seseorang, saya pesan jus melon dulu sisanya nanti kalau dia sudah ada” aku
kembali melihat ke arah luar.
“satu jus
melon, baik mohon di tunggu yah bu” ia melemparkan senyum dan pergi dari
hadapanku.
Sepuluh menit
sudah aku duduk menunggu tito. “mungkin kena macet atau rapatnya lagi tunda”
gerutuku sembari melihat jam tiap lima menit. Sudah satu jam lebih aku menunggu.
Ku coba menelpon tito tapi takut mengganggu pekerjaannya. Sudah hampir dua jam
aku menunggu, kuberanikan diri untuk menelfonnya.
“nomor yang
anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan” hanya opertor
telepon yang menjawab. Saat aku ingin pergi dari restoran dan mendatangi tempat
kerjanya sosok orang yang ku kenal datang dan sedikit terburu-buru.
“ Hei lama
sekali ku kira terjadi sesuatu!” aku sedikit menggerutu
“was du tari?”
ia bertanya dengan wajah penasaran
“ja, kamu
sedikit berbeda, tumben rambutkamu lebih rapi dari biasanya?, emang ada apa?”
“tari,vous
devriez voir le tito... i mean..”,”qu’est-ce qui se psse avec tito?, et qui ȇtes-vous?”
aku melai penasaran dan memotong pembicaraannya.
“mon jumeau
tito, frère”
dia mencoba meyakinkan
“Ne plaisante
pa, je suis sérieux” aku mempertegas dengan sedikit membentak
“je,
t’expliquerai en chemin, viens avec moi!” dia membujukku. Dengan segera ku
ikuti ia menuju mobilnya. Bill minuman kubayar berlebih dan ku tinggalkan
begitu saja.
“votre langue
francaise très
bon, n’ai-je pas pensé” dia bertanya dengan membawa mobil yang melaju cepat.
“merci, ce qui s'est passé? et où allons-nous?” aku bertanya dengan penasaran yang semakin
menumpuk.
“baiklah
aku juga pandai berbahasa, namaku Adelwen Abelard saudara kembar Alcrito
Abelard kau boleh memanggilku elwen. Kita akan kerumah sakit crito kecelakaan
tadi siang saat mengendarai mobilnya” dia mengemudi dengan sedikit serius.
“kau
tau lidah ku pegal kau ajak berbahasa prancis, tito tak pernah menceritakan
apapun tentang kembarannya pada ku? Kau benar bukan titokan?” kutatap baik-baik
wajaknya dan tak ku lepaskan sedetikpun sambil mengernyitkan kedua alisku.
“jangan
melihatku seperti itu, aku melanjutkan pendidikan ku di paris di robert de sourbone, entahlah mengapa ia tidak
pernah menceritakan tentang ku mungkin tito takut ku saingi dalam berbagai hal,
dia selalu cemburu pada ku karena aku lahir beberapa menit darinya” dia
berbicara masih dengan aksen parisnya
Setiba
di rumah sakit aku mulai berlinang air mata, tiba-tiba saja elwen menerima
telepon. Elwen menjatuhkan telepon yang
di genggamnya dan menarik tanganku yang tengah berlari. “kenapa, di mana kamar
tito?” tangan ku kesakitan tapi ku abaikan dan mencari ruangan tito berada.
“il
est mort il n’avait pas aidé, il est dans l’unité de soins
intensifs” wajahnya memucat
“sériuxe?!”
ku hentakkan tangan ku yang digenggam oleh elwen dan berlari mencari ICU. Masuk
tanpa izin bagai kucing yang tidak tau aturan kedalam ruangan dan melihat
keluarga kecil tito berkerumun dengan menitihkan air mata. Ditengah mereka
terbaring sosok pria yang sangat kusayangi, wajahnya berlumur darah dan
tubuhnya menjadi kaku. “Unbeliefeble” semuanya bagaikan mimpi. Tubuhku tak
berhenti bergetar. Langkahku tak
bisa kuhentikan, aku lemas di depan
tubuh kaku yang kusayangin ini, pandanganku menghitam dan tak sadarkan diri.
“aku
ada di mana?” kata itu kembali terlontar di ruangan yang kukenal.
“kau
ada di rumah sakit, ingat, kau pingsan tadi” hal ini pernah terjadi seperti De
ja vu. Air mataku jatuh lagi mengingat awal pertama kali bertemu dengan nya, Alcrito
Abelard. Tubuh ku masih lemas. “tito di mana?” tanyaku sembari masih berbaring,
“hari ini tubuhnya akan di bawah ke german, seluruh keluarga meminta ia di
makamkan disana, maaf ia tak bisa di makamkan di sini” dia mendekat dengan
tempat tidur dan duduk di sampingku.
Air
mataku kembali mengalir, ia pergi tak pamit, pergi tanpa sepatah katapun, pergi
dan meninggalkan kenangan manis juga luka. Aku berbalik dan menatap elwen
rasanya seperti menatap tito dengan gaya yang sedikit berbeda. Tubuh ku
bereaksi sama seperti saat aku bertemu pertama kali dengan tito. Apa yang
terjadi dengan tubuhku kenapa reaksinya sama dengan saat aku bertemu tito.
“aku
tidak seperti tito, aku berbeda dengannya tapi mungkin kami punya kesamaan” dia
berbalik dan keluar dari ruangan. “kesamaan” apa kesamaan dari mereka berdua
jika yang dikmaksudkan wajah sudah tentu mereka adalah kembaran dan aku benar
mengakuinya. Selang beberapa hari kepergain tito aku mengurung diri di rumah.
Tak ingin di ganggu dan berharap ada ke ajaiban, terserah apakah tito bangkit
dari kuburnya dan menggedor pintu rumahku atau sekedar menelfonku.
“Krieeeeng....”
satu SMS di terima. Kubuka sms dari
tito, “tidak mungkin!”
Dear
Mentari
Maaf
aku mengganggu, Aujourd’hui, je vais aller à Paris
Aku
akan kepelabuhan untuk ke malaysia dan naik pesawat ke paris
Maaf
menghubungimu dengan nomor tito
Aku
senang mengenalmu, contact mu akan ku simpan
Dan
semoga kita dapat terus berhubungan meski dengan jarak jauh.
Bye,
je t’aime à
première
vue
Segera
ku ambil kunci mobil dan mengemudi menuju pelabuhan tempat elwen berangkat. Aku
berlari mencari di mana keberadaan elwan dan menerobos kerumunan orang yang
sedang mengantri. Saat aku hampir terjatuh kulihat sosok itu,
“Elweeeeeeennn.....!!” aku teriak sekencang-kencangnya. Malam itu jam sepuluh
empat enam, jam yang tepat berada di atas pintu keluar elwan untuk melangkah, ku
lambaikan tangan ku. Sesaat ia menoleh ke arahku, senyum manis itu di
lontarkannya.
Ku
ikuti langkahnya dari luar arah pelabuhan, semakin jauh dan menaiki kapal putih
tanpa sebuah layar, kapal putih yang sangat besar dengan tiang cerobong asapnya
yang mengepul, suara peluitnya menggelegar membangunkan makhluk-makhluk laut di
bawahnya. Ku rogoh tas kecilku yang sedari tadi menggantung di bahuku, ku ambil
handphone dan ku ketik pesan singkat. Saat itu elwen berbalik dan melihat ke
arahku dengan mengangkat tangan kanannya yang memegang handphone dan tangan
kirinya menunjuk handphone, lalu jempol kirinya mengadah keatas mengarah
padaku. Senyumnya tak akan kulupa hingga kapal itu menjauh dan hilang selurusan
dengan cahaya bulan yang terpantul kelaut selurus dengan tempatku berdiri. Ku
tengok lagi handphone ku dan ku baca sms yang ku kirim untuknya
“berjanjilah,
berjanjilah padaku bahwa kau akan kembali untuk mengambil cintamu yang kau
tinggalkan ini, datanglah lagi”
END...FIN