Kalian kenal dengannya?. Apakah tau apa yang terjadi denganya?.
Mengapa kalian berdiri mengerumuninya?. Kalian berdiri mengelilingi
orang yang tidak kalian kenal?. Pria itu tidak bersedih atau menangis.
pria itu hanya remaja yang masih berumur 20 tahun. Pria itu adalah orang
yang tangguh dan sedikit rapuh. Mengapa kalian mengerumuninya?, dia
hanya berdiri pada sisi jembatan dan melihat kebawah. dia hanya menunggu
takdirnya dengan mencoba melompat dari jembatan itu. kalian tidak
mengenalnya tapi mengapa kalian peduli?. Aku mengetahui semuanya. Ceritanya, perjuangannya, sakitnya dan keinginan terakhirnya.
Dia adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Kedua orang tuanya bekerja
sebagai pegawai swasta yang sibuk dengan berbagai kesibukannya namun
selalu sempat meluangkan waktu untuk anak-anaknya. Dia hidup dalam
kesenangan, hidup dalam kemewahan. Dia tumbuh menjadi anak yang baik dan
sopan. Dia memiliki seorang paman, adik dari ayahnya yang sangat
menyayangi dia dan dua saudaranya. Setiap kali pamannya datang selalu ada
buah tangan yang mereka peroleh. Kesenangan selalu datang kepadanya.
Saat memasuki SMP dia bertemu dengan seorang gadis kecil bernama Reme.
Reme gadis kecil yang sangat manis dan memiliki banyak prestasi. Kemampuannya dalam berbahasa dibandingkan kawan seusianya sangat jauh
melambung. Usia duabelas tahun ia sudah menguasai bahasa Inggris
dan Cina. Tidak mengherankan karena orang tuanya berasal dari negara
tersebut. Ibu reme adalah orang keturunan Cina yang lahir di Indonesia
dan ayahnya adalah seorang duta besar Inggris yang sangat menyukai Indonesia.
Reme memiliki wajah oval dengan mata yang agak sipit
dan bibir yang merah merona. Rambutnya panjang berwarna emas redup yang membuat
wajahnya semakin terlihat bercahaya. Hidungnya mancung, matanya berwarna
biru langit dan sikapnya sangat anggun. "ia sangat cantik" itulah kata
yang pernah di ucapkan orang itu padaku. Orang itu jatuh hati pada reme
saat pertama kali melihatnya.
Dia selalu menunggu reme
sebelum masuk dalam sekolah. Datang saat matahari masih belum ikhlas
memberikan sinarnya pada embun. orang itu sangat takut jika tidak bisa
melihat Reme turun dari mobil silver milik ayahnya. Setiap pagi
disenyuminya Reme sembari berkata "HAI". Reme selalu membalas senyumnya
setiap pagi. Kenalan, dekat, menjadi teman, dan menjadi sahabat. mereka
berdua mampu melakukan itu dalam satu minggu. mereka berlomba dalam
menjadi juara kelas, jika bukan reme maka dia yang akan menjadi
peringkat satu dikelas.
Mereka menjalin persahabatan hingga
SMA selalu sekelas dalam kelas unggulan. Saat SMA dia memiliki satu lagi
sahabat. kali ini namanya Zam anak orang kaya yang memiliki empat
perusahaan dagang internasional di Indonesia. Mereka sangat dekat hingga
mengetahui kelemahan satu sama lain. "Zam sangat baik pada saya!"
setidaknya itu yang ku ingat dalam kepalaku saat dia masih duduk di sampingku.
Inilah awal cerita dari kehidupannya, yang membuat dia berjuang. Hal
ini kuanggap biasa saja di tahun 2013 ini, terlalu banyak sinetron atau
kisah-kisah dengan masalah ini. sore hari saat ia baru saja pulang dari
sekolah setelah berbahagia mendapatkan nilai ujian yang baik, ia
berhenti pada ruang tamu rumahnya. Seketika raut wajahnya berubah. Dia
melihat ibunya menangis. Dihadapan ibunya berdiri seorang anak perempuan
yang manis yang mirip dengan adiknya sewaktu kecil, disamping anak itu
tengah duduk wanita yang memasang raut cemas. Dia merasa heran dan mulai
membuat kesimpulan. Awalnya hanya mengira ibunya terlilit utang sejak ayahnya pergi entah menghilang kemana dan tak pernah kembali. Sudah lima bulan ayahnya pergi dan tak ada kabar, kabar terakhir ayahnya pergi keluarko untuk bekerja karena telah berhenti dari pekerjaannya namun kesimpulan yang dia buat berubah. wajah anak itu terlalu mirip dengan adik perempuannya saat masih kecil.
Anak perempuan itu berulang-ulang
mengatakan "tante ayah ku dimana, aku kangen sama ayah?". kesimpulannya
terbukti, wanita itu adalah rekan kerja ayahnya yang selalu bepergian
keluar kota bersama saat meeting di luar kantor dan anak itu adalah adiknya atau lebih tepat
adik tirinya. dunianya berubah, sedih atau bahagia, marah atau
memaafkan, berteriak atau diam. semua pertanyaan mulai bermunculan dalam
benaknya "apa, apa, apa?" semua terlalu cepat baginya. Sebuah tangan lembut menyentuh bahunya dan
mengangkat wajahnya. Tidak setetespun air mata ada di pupil matanya.
Tubuhnya gemetar dan dadanya bergemuruh. "perkenalkan nak, ini adik
mu..., dan ini ibu mu yang lain" kata-kata itu bagaikan air yang
disiramkan pada tungku yang panas, bagaikan tanah yang kering dan
tersapu oleh hujan. Setidaknya hal itu yang pernah diutarakan olehnya, oleh ibunya yang menatap matanya dalam seraya memintanya untuk memaafkan.
Hingga saat orang yang memintanya hal itu sakit, ia lumpuh. Banyak beban
yang ibunya sebunyikan dari dia. Semuanya berhasil dirahasikan dari dia, air
matanya, sakitnya, lukanya, bahkan amarahnya. hingga nafas terakhir dihembuskan ibunya selalu berhasil menyembunyikan perasaannya pada dia. "jaga dan lindungi
adik-adik mu, ibu mohon" kata terakhir yang dia dengar dan membuat
dunianya berubah lagi.
Hingga saat itu ayahnya tak pernah
muncul. Dia mulai bekerja demi membiayai adiknya. Dia mendapat beasiswa
hingga sekolahnya masih berlanjut. semua usaha dia lakukan untuk adiknya.
hingga saat adik perempuannya di asuh oleh pamannya. Pamannya berjanji
untuk mengasuh adiknya dengan baik. Sedikit bebannya mulai berkurang,
tapi danau biru yang ada dalam hatinya mulai sedikit menghitam.
Akhir kelulusan SMA, Dia menyatakan perasaannya pada reme tapi sesuatu
yang mengejutkan membuatnya tidak percaya. Selama dia bekerja paruh
waktu, dia lupa hampir tidak pernah dia berbicara lagi dengan reme.
prestasinya juga menurun dan bahkan dia tidak pernah lagi tersenyum
dengan reme, tapi bukan hal itu yang mengejutkannya. Reme ternyata telah
hamil, kasusnya telah beredar disekolah saat kematian ibunya dan Zam
adalah orang yang menghamili reme. Memang kedua orang tua mereka telah
menjodohkan mereka sehingga kasusnya tidak berlarut. "Semuanya seperti
mimpi". dia menyimpan rasa ini selama enam tahun dan hancur dalam semenit
bahkan kurang.
Rasa itu kembali. "Seperti ada yang tertawa,
seperti ada yang bahagia, Siapa-Siapa-Siapa?" itu yang dia ucapkan
dengan mengguncang raganya. Depresi seperti mendatanginya, tetapi dia
teringat ibunya. belum selesai.. handphonenya berdering. ditariknya
nafas panjang dan melihat handphonenya. "Halo!!, selamat siang benar ini
dengan kakanya Andreas?" suara yang lembut membuat alisnya mengernyit.
"iya benar, ada apa dengan andreas?, ini siapa?" dia menyahut. "kami
dari pihak rumah sakit Swasta, Kami harap anda dapat kemari segera!"
suara lembut itu perlahan menghilang di balik telephone.
Sepeda motor yang
dimilikinya dinyalakannya dengan penuh ke khawatiran dengan adik
laki-lakinya. Setibanya di rumah sakit dia berlari dan menanyakan
adiknya. Banyak kerumunan siswa pelajar SMP dengan seragam Putih
birunya. "kak andreas di ICU!!" anak wanita dengan seragam menyapanya.
Dia berlari ke ICU. Saat pintu terbuka banyak anak dengan luka di tubuhnya berada di tempat
tidur bersama dengan orang tuanya. Ditatapnya satu persatu wajah dan ia
menemukan letak adiknya. Dia mendekati adiknya dengan wajah tidak
percaya. Tangan yang dingin tiba-tiba meraih bahunya dan berkata "Maaf!!
ia tidak tertolong". Adiknya memang telah terbujur kaku dan seluruh
tubuhnya di selimuti selimut putih rumah sakit. Tawuran pelajar yang terjadi merenggut adiknya
yang melintas untuk berlari pulang. Andreas kehilangan banyak darah dan tak bisa ditolong. Air matanya tidak mengalir hanya
saja tubuhnya kembali gemetar. Rasa itu kembali.. lagi dan lagi.
Di semayamkannya adiknya tanpa setetes air mata. Belum ini belum
berakhir... dia masih hidup. adik perempuanya masih ada. Dia masih
memiliki paman yang baik. danau yang sudah mulai menghitam tidak
sepenuhnya menghitam. Sehari setelah kepergian adik laki-lakinya dia
mencoba menemui pamannya. Kabar yang dia dengar pamannya telah pindah
entah mengapa. Hingga akhirnya dia berdiri pada suatu jalan yang
mengherankannya, kedua alisnya saling bertemu di tengah dahinya. Sebuah Bar dalam lorong tempat para lelaki hidung
belang mangkal. Dia tidak ingin membuat kesimpulan, Dia tidak ingin
menduga-duga seperti sebelum-sebelumnya, dan dia tidak ingin mencoba melangkah lagi, namun
benar saja seseorang duduk ditangah wanita-wanita dengan memegang
sebotol minuman beralkohol adalah orang yang dia kenal.
Dia
akhirnya turun dari motornya dan masuk kedalam bar. Sebuah bar kecil
seperti sebuah kontrakan dengan banyak kamar. Membuatnya semakin tidak
percaya. Orang yang memegang minuman itu berdiri dan mengelap liurnya
yang keluar tanpa tau aturan. "sejak kapan kau kemari?" pamannya mencoba
bertanya. Semua terjadi begitu cepat baginya. sebuah pintu kamar
terbuka dan seorang lelaki keluar sembali mengancing pakaiannya, kancing dan res celananyapun belum di naikkan. Di balik pintu itu ada sosok wanita yang hampir tanpa busana dengan dandanan cantik tengah berdiri. Tidak ada kata yang dapat dia utarakan.
Dia akhirnya mengetahui semuanya. Pamannya menceritakan semuanya. Pamannya bangkrut karena ayahnya
menipu pamannya dan tak pernah kembali. Pamannya yang ingin uangnya kembali
mengambil adiknya dan menjadikannya pekerja seks. Adik perempuannya yang telah menjadi pekerja seks menjadi tidak bisa lepas karena ketagihan. Tubuhnya kembali
gemetar... lagi.. lagi.. lagi.. !!. dia ingin teriak, dia ingin marah,
dia ingin.. ingin ini tidak terjadi.
Dia pulang. Dia berada pada sudut
ruangan yang gelap. Dia meringkuk dengan membenturkan kepalanya di
tempok. Basah, wajahnya basah kuyup tetapi tak satupun air mata mengalir
di wajahnya. Dia di bawah kerumah sakit oleh seorang tetangga yang
khawatir padanya. Dia kehilangan banyak darah. Seluruh danau biru kini
tengah menjadi hitam, hitam pekat atau bahkan tidak memiliki warna. "Aku
kesakitan, tapi tidak luka!" dia mengutarakannya padaku.
Disinilah dia, berdiri dipinggir sebuah jembatan dengan merentangkan
tangannya. Dia disini sesaat setelah menceritakan semuanya padaku. "aku
sadar dunia berputar, waktu kecil aku selalu bahagia, itu pada saat aku
dia atas" dia tersenyum pada ku. "dan kini aku ada di bawah, kehidupanku
Hancur.. apakah aku akan bisa kembali di atas?, entahlah" dia berdiri
dan mulai berjalan menuju jembatan itu. tekatnya sudah bulat, tak ada
satu orang pun yang bisa menghadangnya saat ini. "akankah aku berada di
atas kembali...? hah....?" ia berteriak dan mengundang banyak orang
melihatnya. Dia kehilangan kepercayaannya pada tuhan.
Dia
molompat. Aku hanya bisa menatapnya dan membiarkan dia melakukan itu.
Saat sadar dia telah berada di trotoar dibawah jembatan aku berlari
menghampirinya. Dia penuh darah. Kepalanya pecah, darahnya bercecer
dimana-mana. ku alihkan wajah ku ke arah lain. Orang-orang berkerumun dan hanya berdiri dan bergumam "kasihan". Ada sebuah Ambulance yang
datang kerumunan orang semakin tak menentu, polisi, edagang dan orang-orang yang melintas berkerumun. Saat ku alihkan lagi wajahku padanya "dia masih bernafaaas...
Tolooooong!!" aku memohon. sesat wajahnya seperti meminta pertolongan
ku.
Tiga bulan berlalu. Dia berhasil melewati masa kritisnya. Wajahnya sedikit terlihat bahagia, Dia lebih sering tersenyum. Aku
selalu datang menjenguknya dan membiayai rumah sakitnya. Meskipun awalnya aku tak mengenalnya satu hal yang
kusadari, dengan ceritanya disini, saat ini aku berhasil membawanya keatas roda
kehidupan. Bersama anak-anakku yang tumbuh selalu dengan kebahagian. Tidak dibiarkan satupun anaknya yang berlinang air mata. Dia hanya
akan menangis saat melihatku bersedih. Dia Suamiku yang tegar. "terima
kasih. sudah mejadi setetes cahaya dalam danauku yang gelap
dan kau telah menjernihkan kembali air kehidupan dalam hatiku, terima
kasih..." Kata-kata yang paling aku suka, saat dia mengutarakannya
sesaat ia sadar dalam mautnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar