Kamis, 15 Agustus 2013

Kapal putih tanpa layar



         Malam itu malam yang terakhir untukku melihatnya. Dia akan datang kembali tapi entah kapan. Waktu masih membisu membahas kehadirannya lagi, kehadirannya dalam hidup ku yang kini berbeda. Kehidupanku yang tak lagi seperti kehidupan orang pada umumnya. Semua berubah, semua terjadi karena dia. 

        10 November 2007. Kesibukanku dimulai saat fajar masih bersembunyi dia ufuk timur dan masih enggan menampakkan diri. “semuanya siap, aku bisa..., ini adalah debut karir ku untuk pertama kali dan tak akan kubiarkan gagal” aku berbicara di depan cermin sesuai dengan saran-saran orang hebat bahwa berbicara sendiri di depan cermin dapat meningkatkan tingkat percaya diri seseoranng. Meskipun terlihat gila namun ku lakukan saja, aku adalah orang yang memiliki kepercayaan diri yang lemah tetapi sekarang aku harus bisa merubahnya.

       Bukan sebuah hal baru, aku terbiasa melihat rekan kerjaku melakukan hal ini “Presentasi”, namun saat ini akulah yang akan melakukannya dalam  kondisi membawa nama besar tempatku berkerja kepada pemilik perusahaan dagang asing. Dibandingkan seluruh rekan kerjaku, aku yang yang paling fasih berbahasa Asing. Tidak tanggung-tanggung ku kuasai tiga bahasa Asing di usiaku yang sebentar lagi menjadi dupuluh empat tahun. Bahasa Ingris ku kuasai dari les di berbagai tempat, bahasa Jerman ku kuasai dengan otodidak karena kegilaan ku melihat cowok-cowok Jerman dengan bola mata mereka yang berwarna dan hidung mancung mereka yang sungguh mampu membuatku melting dan menjadi cita-cita dalam hati ku menjadi istri salah seorang dari mereka, dan bahasa Prancis ku pelajari karena sahabat dekatku memaksa untuk menemaninya selama kursus bahasa Prancis karena dia melanjutkan kuliahnya di Paris.

         “teng... teng... teng...” jam duabelas tepat, waktuku untuk memulai rapat penting ini. Sepuluh... lima belas... duapuluh..., pintu ruangan akhirnya terbuka lebar. Suara tepuk tangan yang dilakukan sambil berdiri oleh para pemilik perusahaan dagang masih menggelegar keluar dari pintu rapat. “bravo..., perfecto..., exelent...” kata-kata itu terlontar dari mulut mereka menyatakan presentaseku mengagumkan untuk mereka. Debut pertamaku sukses besar.

          Keberhasilan debutku mengakatku pada ujung karir ku yang tersukses.” Aku wanita karir yang sukses” awalnya itu sebuah pernyataan aku hebat namun semua ternyata hanya permulaan. Aku kaya semua yang ingin kubeli dapat ku beli, karirku sukses, hidupku cukup. Cukup sampai kusadar ternyata belum. Aku masih tak memiliki pasangan. Pacar atau bahkan teman lelaki yang istimewa. Belakangan aku mencari tau mengapa tak ada seorang cowok yang mencoba mendekat dengan ku. “Aku cantik, kaya dan aku wanita karier apa kurangnya diriku?” semua terjawab, mereka ill fell berjalan dengan ku yang selalu merasa diatas dari mereka. Kodrat mereka menolak secara naluria untuk mendekat denganku. Aku mulai ketakutan dengan keadaan ini.

           Dihadapan cermin sebelum aku memulai debutku aku melihat lagi diriku yang berbeda. Diriku yang sangat berkebalikan dari yang dulu. “Mantra mereka benar” aku mengoceh membenarkan perkataan orang hebat itu. Sekarang aku seorang yang memiliki kepercayaan diri tinggi hingga melupakan daratan. Aku melihat wajahku yang sudah tidak remaja lagi. “apakah aku akan menjadi perawan tua? Tidak aku iangin memiliki keluarga kecilku sendiri, anak dan suami yang bisa ku urus bukan karirku dengan kesendirian” kubulatkan tekat ku untuk mulai mencari pasangan.

          Hari demi hari kulalui. Aku bagai tante-tante tak tau diri yang kehausan akan kasih sayang. Ada yang menolak saat kuajak dinner, ada yang beralasan ini itu saat ku ajak lauch dan bahkan ada yang lari terbirit-birit saat ku ajak untuk makan bersama. “huh ada apa dengan mereka? Apakah aku ini aneh?” pertanyaan penuh di dalam kepalaku bagaikan TTS yang harus diisi satu persatu. Aku jatuh pingsan.

                “dimana aku?” tersadar aku berada di tempat yang tak ku kenal.
          
           “kamu dirumah sakit!!” seseorang beranjak dari sofa panjang di seblah kiri tempatku berbaring.

                “anda siapa? Dan kenapa saya di sini?” aku bertanya masih dengan kepala sedikit pusing.

               “tadi anda pingsan, wajah anda pucat makanya saya memiliki inisiatif untuk membawa anda kemari, oh ya saya tito” dia memperkenalkan dirinya dengan senyumnya yang lembut.

               oh thanks... aku gak apa kok, aku sehat” aku mencoba bangkit dari tempat tidur.

               “tunggu!!! Kamu harus istirahat dokter yang bilang begitu, maaf anda kekurangan darah dan kelelahan. Apakah anda bekerja dan mengabaikan diri anda hingga seperti ini?” aku di hujani pertanyaan lagi

               “yah kurang lebih..” jawab ku ketus.
  
              “pedulilah terhadap diri anda karena tanpanya anda bukan apa-apa” dia mencoba menasehati
Kutatap raut wajahnya tak ku temukan tanda pria-pria yang ingin melakukan kejahatan, senyumnya tulus terpancar dari bibirnya yang merah dan matanya.
            
             “ya ampun anda memakai soft lense?” kata-kataku mengejutkannya.
             “tidak ini warna asli pupil mata saya”ia kembali tersenyum.
   
             “uh sorry aku suka pupil mata anda, em aku Mentari cukup panggil tari aja” aku sedikit malu dan kagum melihat warna matanya, “em turunan Jerman ya?”
               
              “emh yah, kedua orang tua saja deustch” dia kembali tersenyum.
               
              “Danke gut” simpatiku padanya
          
             Danke auf” balasnya ramah, “ kamu fasih juga berbahasa Jerman?, belajar atau...?” tanyanya sembari tersenyum.
             
         lernen, outodidakt” jawabku membalas senyum, “ich liebe un deustch, sie beeindruckend” ku jawab penuh ke kaguman.
      
          danke, tari” dia tersenyum lagi dan kali ini mataku tak dapat lepas dari raut wajah itu. Aku jatuh cinta padanya di pandangan pertama.
                
       Seminggu setelah kejadian itu aku sangat dekat dengan tito kami bertukar contact dan sering jalan bareng. Kembali lagi aku pada sebuah cermin yang selalu membantuku menangani masalah-masalah ku. “aku beruntung, aku tak perlu khawatir lagi!!, ku dapatkan cinta yang ku mau” aku bergumam sambil terkekeh-kekeh sendiri di hadapan cermin itu. Setiap kali melihat wajahnya ada sebuah rasa yang mengebu-gebu di dalam tubuhku ini, berbeda dengan saat aku bersama lelaki yang lain.

      Setiap hari tito menjemputku dengan mobil Ferrari merah sport dengan plat B 71 TO yang mengantarku ke tempat kerja dan tempat kerjanya tak jauh dari perusahaan ku bekerja. Kadang ia menghampiriku saat lauch atau menemaniku mencari breakfast sebelum ke kantor. Hidupku menyenangkan sejak mengenalnya, rasa humornya membuatku tak bosan saat jalan bersaamanya, selera kami sama tapi bukan sengaja di sama-samakan seberti si ABABIL (ABG LABIL), yang meskipun mereka gak suka demi menyenangkan pasangan dipaksakan untuk suka ini itu.

          Satu moment yang tak pernah kulupakan saat tito mengajakku dinner yang ternyata merupakan ajakan kencan di restoran Jerman yang selalu ku impikan masuk tapi tak pernah kesampaian. Bukan karena aku tak mampu membayar, hanya saja di restoran itu selalu di datangi oleh orang-orang yang nge-date bareng kekasihnya dan aku baru bisa memasukinya itupun karena tito.

nachricht was?” sambutan pelayan dengan bahasa german.

wine fϋr frauen schone, in front of me” dia memegang tanganku dan mencium tanganku yang berada di depannya. Hari itu kuharap waktu berhenti. “oh tuhan tolong... berikan remote seperti pada film "Click" padaku saat ini, atau Doraemon hentikan waktunya sekarang, siapapun tolong hentikan waktunya” gerutuku dalam hati yang sedikit lagi akan terbang melayang-layang tak karuan bagai balon yang di tiup dan terlepas. Wajah ku memerah dan rasanya seluruh tubuhkan tak dapat ku gerakkan. Tak kusangka setelah menegak wine tiba-tiba tito jatuh dari bangkunya sembari memegang dadanya, ia terlihat kesulitan bernafas.

“obatku... obatku...” ia melihat penuh harap padaku, seluruh orang melihat ke arah kami, beberapa karyawan mendekat ke arah kami sembari berlari kecil.

call ambulace, pleasee....” teriakku.

“obatku-obatku di kantung kanan” tito memintaku merogoh kantung kanannya. Tanpa ragu ku rogoh kantung kanan di celananya dan kutarik keluar benda apapun yang ada di sana.

“cincin?” Tanyaku heran. Aku hanya menemukan cincin di sana dan tak ada yang lain.

would you be my?” ia bangkit dan duduk menghadap kearahku dan dengan matanya yang tanpa dosa, DIA MELAMARKU MALAM ITU.

your insane tito, you make me panic.. you insane, but yes i am  aku menerima dengan hati yang gak karuan, bahagia, sedih, dan jangan lupa aku masih dalam keadaan panik. Panik segila-gilanya panik. Malam itu tak akan pernah bisa kulupa, serentak orang yang ada di restoran berdiri dan bertepuk tangan begitu pula karyawan dan jangan lupa security yang masih memegang gagang telepon yang masih terhubung kerumah sakit karena kegilaan tito. “sial satu restoran pun kau tipu... your insane very insane, you make me cry and smile in one time... I LOVE YOU” aku menggerutu kesal bahagia dua kata yang jarang sekali berdampingan di dalam hidup ku.

Setelah malam itu cincin itu terpasang di jari manisku, aku di kenalkan dengan kedua orang tuanya yanng jelas sangat fasih berbahasa Jerman. Mereka sangat ramah. Aku bahkan di sambut dengan sangat baik, di jamu dengan masakan khas jerman yang hanya mengunakan merica sebagai bumbunya. Keluarga besar tito sebagian berdarah Indonesia, ada yang menikah dengan wanita indo dan ada yang telah lama menetap di Indonesia serta ada yang terlahir sebagai warga negara Indonesia dan tumbuh di indonesia seperti tito.

Hari ini aku janjian untuk lauch bersama dengan tito, namun karena masih ada rapat kerja, aku di minta untuk nge-booking tempat makan di restoran kesukaan kami yang berada di sebuah mal yang ramai akan manusia berduit. Segera ku minta supir pribadiku mengantar ku ke mal itu dan sampailah aku di depan resepsionis restaoran kesayangan kami.

“silahkan, sudah pesan tempat sebelumnya?” sambut pelayan resto sambil melemparkan senyumnya

“belum, saya mau pesan tempat untuk berdua” aku mejawab dengan malihat area dalam restoran. Kepalaku celangak-celinguk sendiri berusaha mencari tempat yang pas untuk berdua.

“Silahkan lewat sini, saya akan menunjukkan tempatnya untuk dua orang” si pelayan yang satu dengan ramah menghampiri.

“boleh saya saja yang pilih, saya ingin di sebelah sana” jari ku menunjuk ke arah pojokan ruangan yang tidak terlalu ramai pengunjung, suasananya adem dan tidak terlalu gelap juga tidak terlalu terang. Suasananya nyaman untuk melepas lelah setelah setengah hari bekerja. Setelah duduk di kursi pilihan ku kuliat area sekitar, tito belum muncul.

“silahkan, mau pesan apa?” suara pelayan menglihkan perhatianku

“saya menunggu seseorang, saya pesan jus melon dulu sisanya nanti kalau dia sudah ada” aku kembali melihat ke arah luar.

“satu jus melon, baik mohon di tunggu yah bu” ia melemparkan senyum dan pergi dari hadapanku.

Sepuluh menit sudah aku duduk menunggu tito. “mungkin kena macet atau rapatnya lagi tunda” gerutuku sembari melihat jam tiap lima menit. Sudah satu jam lebih aku menunggu. Ku coba menelpon tito tapi takut mengganggu pekerjaannya. Sudah hampir dua jam aku menunggu, kuberanikan diri untuk menelfonnya.

“nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan” hanya opertor telepon yang menjawab. Saat aku ingin pergi dari restoran dan mendatangi tempat kerjanya sosok orang yang ku kenal datang dan sedikit terburu-buru.

“ Hei lama sekali ku kira terjadi sesuatu!” aku sedikit menggerutu

was du tari?” ia bertanya dengan wajah penasaran

ja, kamu sedikit berbeda, tumben rambutkamu lebih rapi dari biasanya?, emang ada apa?”

“tari,vous devriez voir le tito... i mean..”,”qu’est-ce qui se psse avec tito?, et qui ȇtes-vous?” aku melai penasaran dan memotong pembicaraannya.

mon jumeau tito, frère” dia mencoba meyakinkan

Ne plaisante pa, je suis sérieux” aku mempertegas dengan sedikit membentak

je, t’expliquerai en chemin, viens avec moi!” dia membujukku. Dengan segera ku ikuti ia menuju mobilnya. Bill minuman kubayar berlebih dan ku tinggalkan begitu saja.

votre langue francaise très bon, n’ai-je pas pensé” dia bertanya dengan membawa mobil yang melaju cepat.

merci, ce qui s'est passé? et où allons-nous?” aku bertanya dengan penasaran yang semakin menumpuk.

        “baiklah aku juga pandai berbahasa, namaku Adelwen Abelard saudara kembar Alcrito Abelard kau boleh memanggilku elwen. Kita akan kerumah sakit crito kecelakaan tadi siang saat mengendarai mobilnya” dia mengemudi dengan sedikit serius.

        “kau tau lidah ku pegal kau ajak berbahasa prancis, tito tak pernah menceritakan apapun tentang kembarannya pada ku? Kau benar bukan titokan?” kutatap baik-baik wajaknya dan tak ku lepaskan sedetikpun sambil mengernyitkan kedua alisku.

      “jangan melihatku seperti itu, aku melanjutkan pendidikan ku di paris di robert de sourbone, entahlah mengapa ia tidak pernah menceritakan tentang ku mungkin tito takut ku saingi dalam berbagai hal, dia selalu cemburu pada ku karena aku lahir beberapa menit darinya” dia berbicara masih dengan aksen parisnya

                Setiba di rumah sakit aku mulai berlinang air mata, tiba-tiba saja elwen menerima telepon. Elwen menjatuhkan telepon  yang di genggamnya dan menarik tanganku yang tengah berlari. “kenapa, di mana kamar tito?” tangan ku kesakitan tapi ku abaikan dan mencari ruangan tito berada.

                il est mort il n’avait pas aidé, il est dans l’unité de soins intensifs” wajahnya memucat

                sériuxe?!” ku hentakkan tangan ku yang digenggam oleh elwen dan berlari mencari ICU. Masuk tanpa izin bagai kucing yang tidak tau aturan kedalam ruangan dan melihat keluarga kecil tito berkerumun dengan menitihkan air mata. Ditengah mereka terbaring sosok pria yang sangat kusayangi, wajahnya berlumur darah dan tubuhnya menjadi kaku. “Unbeliefeble” semuanya bagaikan mimpi. Tubuhku tak berhenti bergetar.  Langkahku tak bisa  kuhentikan, aku lemas di depan tubuh kaku yang kusayangin ini, pandanganku menghitam dan tak sadarkan diri.

                “aku ada di mana?” kata itu kembali terlontar di ruangan yang kukenal.

                “kau ada di rumah sakit, ingat, kau pingsan tadi” hal ini pernah terjadi seperti De ja vu. Air mataku jatuh lagi mengingat awal pertama kali bertemu dengan nya, Alcrito Abelard. Tubuh ku masih lemas. “tito di mana?” tanyaku sembari masih berbaring, “hari ini tubuhnya akan di bawah ke german, seluruh keluarga meminta ia di makamkan disana, maaf ia tak bisa di makamkan di sini” dia mendekat dengan tempat tidur dan duduk di sampingku.

                Air mataku kembali mengalir, ia pergi tak pamit, pergi tanpa sepatah katapun, pergi dan meninggalkan kenangan manis juga luka. Aku berbalik dan menatap elwen rasanya seperti menatap tito dengan gaya yang sedikit berbeda. Tubuh ku bereaksi sama seperti saat aku bertemu pertama kali dengan tito. Apa yang terjadi dengan tubuhku kenapa reaksinya sama dengan saat aku bertemu tito.

                “aku tidak seperti tito, aku berbeda dengannya tapi mungkin kami punya kesamaan” dia berbalik dan keluar dari ruangan. “kesamaan” apa kesamaan dari mereka berdua jika yang dikmaksudkan wajah sudah tentu mereka adalah kembaran dan aku benar mengakuinya. Selang beberapa hari kepergain tito aku mengurung diri di rumah. Tak ingin di ganggu dan berharap ada ke ajaiban, terserah apakah tito bangkit dari kuburnya dan menggedor pintu rumahku atau sekedar menelfonku.

                “Krieeeeng....” satu SMS di terima.  Kubuka sms dari tito, “tidak mungkin!”
                                Dear Mentari
                                Maaf aku mengganggu, Aujourd’hui, je vais aller à Paris
                                Aku akan kepelabuhan untuk ke malaysia dan naik pesawat ke paris
                                Maaf menghubungimu dengan nomor tito
                                Aku senang mengenalmu, contact mu akan ku simpan
                                Dan semoga kita dapat terus berhubungan meski dengan jarak jauh.
                                Bye, je t’aime à première vue
                 
             Segera ku ambil kunci mobil dan mengemudi menuju pelabuhan tempat elwen berangkat. Aku berlari mencari di mana keberadaan elwan dan menerobos kerumunan orang yang sedang mengantri. Saat aku hampir terjatuh kulihat sosok itu, “Elweeeeeeennn.....!!” aku teriak sekencang-kencangnya. Malam itu jam sepuluh empat enam, jam yang tepat berada di atas pintu keluar elwan untuk melangkah, ku lambaikan tangan ku. Sesaat ia menoleh ke arahku, senyum manis itu di lontarkannya.

                Ku ikuti langkahnya dari luar arah pelabuhan, semakin jauh dan menaiki kapal putih tanpa sebuah layar, kapal putih yang sangat besar dengan tiang cerobong asapnya yang mengepul, suara peluitnya menggelegar membangunkan makhluk-makhluk laut di bawahnya. Ku rogoh tas kecilku yang sedari tadi menggantung di bahuku, ku ambil handphone dan ku ketik pesan singkat. Saat itu elwen berbalik dan melihat ke arahku dengan mengangkat tangan kanannya yang memegang handphone dan tangan kirinya menunjuk handphone, lalu jempol kirinya mengadah keatas mengarah padaku. Senyumnya tak akan kulupa hingga kapal itu menjauh dan hilang selurusan dengan cahaya bulan yang terpantul kelaut selurus dengan tempatku berdiri. Ku tengok lagi handphone ku dan ku baca sms yang ku kirim untuknya

                “berjanjilah, berjanjilah padaku bahwa kau akan kembali untuk mengambil cintamu yang kau tinggalkan ini, datanglah lagi”
END...FIN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar